Semua Itu Hanyalah Masalah Sikap

Uncategorized

Roni S

Roni S Sutrisno, Chairman of Proxsis Strategic and Business Soluitions

Suatu malam saya pulang dari Bandara Soekarno-Hatta menggunakan taxi. Sambil menembus macetnya Jalan Tol Pelabuhan Jakarta menuju rumah saya di daerah Jakarta Timur, saya berbincang-bincang dengan Sang Supir Taxi. Sang Supir Taxi ini berasal dari daerah Banyumas, yang merupakan daerah yang sama dengan leluhur saya. Supir Taxi ini masih bujangan, saya taksir umurnya sekitar 23 sd 25 tahun.

Saya tanyakan kepadanya, apakah pernah merasa jenuh menjadi supir taxi di Jakarta, yang harus sangat-sangat bersabar dalam menembus kemacetan di Jakata. Jawabannya cukup mengagetkan saya bahwa ternyata sang supir taxi ini relatif bisa menikmati macetnya Jakarta. Biasanya, jika jalanan macet maka dia bisa berbincang-bincang dengan penumpangnya dan berarti dia bisa belajar lebih banyak tentang kehidupan. Atau paling tidak bisa mendengarkan radio dan dia merasa hal ini bisa menambah wawasan hidupnya.

Dia sendiri baru sekitar 1,5 tahun menjadi supir taxi dan dia punya cita-cita yang cukup tinggi yaitu memiliki kios di pasar dan berdagang di sana. Ketika saya tanyakan berapa jam biasanya dia bekerja setiap hari, dia sampaikan bahwa dia bekerja terkadang sampai 14 jam sehari. Sungguh mengagumkan bahwa 14 jam setiap hari menembus kemacetan dan kesemrawutan jalanan di Jakarta, adalah hal yang dapat dinikmati.

Malam lainnya saya pulang dari Bandara Soekarno-Hatta menggunakan taxi yang berbeda, menembus kemacetan yang sama. Saya berbicara dengan Sang Supir Taxi dengan topik yang sama dengan sebelumnya. Namun saya mendapatkan tanggapan yang jauh berbeda. Sang Supir sama-sama melewatkan 12 hingga 14 jam sehari di atas mobil taxinya, namun yang disampaikannya selalu keluhan dan keluhan.

Keluhan tentang jalanan macet, tentang dia harus mengganti rugi cukup banyak atas tabrakan yang terjadi bulan lalu, tentang pemerintahan yang tidak adil, tentang penyakit yang dideritanya selama ini, tentang mahalnya biaya hidup di Jakarta, sampai “curhat” tentang anak-anaknya yang tidak bisa diatur. Ketika saya tanyakan lagi apakah harapan-harapan yang dia punyai, dia sampaikan yang intinya bahwa orang sekelas dia tidak pantas punya harapan. Dia merasa terpaksa menjadi supir taxi karena tidak ada pekerjaan lain dan memasuki 3 tahun menjadi supir taxi dia sudah merasa lelah sekali.

Dua hal di atas adalah dua manusia dengan pekerjaan yang sama, namun menyikapinya dengan cara yang berbeda. Yang satu ikhlas dan mencoba menikmati kondisi yang ada, yang satu benar-benar tidak bisa menikmati pekerjaan yang ada. Kalau kita lihat lebih jauh, ternyata sikap yang berbeda ini menghasilkan output dan dampak yang sangat berbeda. Pada salah satu ceramah motivasinya, motivator terkenal dari Amerika, Leslie Brown, mengatakan bahwa berdasarkan riset kedokteran yang pernah dia baca, ternyata penyebab utama serangan jantung dan penyakit kanker terbesar di Amerika adalah kejenuhan dan ketidakikhlasan dalam bekerja, yang sering kita dengar dengan nama “Monday Syndrome”.

Jadi sikap “terpaksa”, “negatif”, “saya hanyalah korban” dan sikap-sipak sejenis lainnya ternyata selain berdampak buruk bagi hasil pekerjaannya, juga berdampak bagi kesehatan dan saya yakin banyak dampak-dampak negatif lainnya.

Ada suatu kondisi, yang sebenarnya kondisi tersebut adalah netral, namun bagi sebagian orang hal itu adalah beban, namun bagi sebagian orang hal itu adalah tantangan. Bagi sebagian orang hal itu adalah perjalanan melelahkan. Bagi sebagian orang hal itu adalah perjalanan yang menyenangkan.

Bagi sebagian orang olah raga adalah melelahkan, bagi sebagian orang olah raga adalah hal yang menyegarkan. Bagi sebagian orang, bekerja adalah rutinitas yang menyiksa, bagi sebagian orang bekerja adalah kesempatan untuk berkreasi. Bagi sebagian orang menyapu halaman adalah pekerjaan yang melelahkan, bagi sebagian orang menyapu halaman adalah hal yang menyehatkan. Ingatlah bahwa Bill Gates sangat menikmati mencuci piring (dan dia lakukan tiap malam), sementara bagi kebanyakan orang, mencuci piring adalah hal yang menjengkelkan. Ingatlah bahwa orang-orang desa yang tetap sehat hingga usia 80-an ternyata sangat menikmati pekerjaan menyapu halaman rumahnya.
Hukum kehidupan adalah sangat sederhana, yaitu kita memiliki kebebasan untuk memilih apapun, namun sayangnya kita tidak bisa memilih konsekuensi atas pilihan kita. Terkait dengan hal di atas, sikap kita terhadap suatu hal, juga merupakan suatu pilihan. Apakah kita ingin menyikapi kehidupan ini secara negatif, dengan konsekuensi memburuknya kesehatan kita, memburuknya hubungan dengan keluarga/relasi kita serta buruknya hasil kerja kita. Apakah kita memilih untuk menyikapi hidup ini secara positif, dengan konsekuensi kita akan mencapai tujuan/harapan/impian kita, kesehatan kita tetap baik serta hubungan dengan keluarga/relasi kita juga baik.
Hari yang sama, pekerjaan yang sama, yang disikapi secara berbeda, hasil serta dampaknya ternyata akan sangat berbeda, dan perbedannya bisa sampai 180 derajat. Pastikan kita memilih sikap yang memiliki konsekuensi positif bagi kehidupan kita, karena hidup ini hanya sekali dan pastinya Tuhan tidak ingin kita gagal dalam kehidupan.

%d bloggers like this: