Majalah Eksekutif

Uncategorized

Rudi Maulana, CPP, MM, Founder Proxsis Group

Berobsesi Lahirkan Banyak Wirausahawan

“Banyak pengusaha cenderung menutup rapat-rapat rahasia kesuksesan dalam menggeluti usahanya agar tak mudah ditiru followers maupun competitor. Tapi Rudi Maulana justru sebalikanya, ia senang berbagi rahasia keberhasilan dan keahliannya dalam membangun usaha kepada orang lain termasuk karyawan sendiri, agar mereka terpacu dan termotivasi membangun usaha sendiri.”

Pindah kuadran sebagaimana Robert T. Kiyosaki dalam buku best seller bertajuk “rich dad, poor dad” yang menggambarkan perpindahan seseorang dari zona nyaman sebagai karyawan menuju kuadran business owner atau entrepreneuer, memang bukan hal mudah. Diperlukan keberanian meninggalkan comfort zone untuk banting stir membangun usaha sendiri. Apalagi bagi seseorang yang selama ini sudah punya posisi tinggi dengan gaji besar.

This is image placeholder, edit your page to replace it.

“Dari pengalaman saya sebagai konsultan bisnis selama ini, kendala seperti itu banyak sekali dialami oleh para calon wirausahawan. Kebanyakan mereka takut duluan, termasuk dari kalangan orang-orang yang secara financial sebenarnya punya modal,” ungkap Rudi Maulana, CPP, MM, Founder Proxsis Group.

Untuk pindah kuadran, dibutuhkan keberanian, tekad, dan semangat menjadi entrepreneuer. Di sinilah perlunya konsultan maupun business coach (pelatih bisnis) untuk memberikan motivasi, dukungan, dan bimbingan agar mereka lebih percaya diri untuk merintis usaha sendiri.

Lulusan S2 Institute Pengembangan Manajemen Indonesia 2002 ini meyakini, di era persaingan bisnis yang makin ketat saat sekarang, kebutuhan akan pendamping maupun konsultan manajemen bisnis sangat penting. Apalagi era pasar bebas, di mana landscape dunia bisnis bergerak kian cepat yang membutuhkan kejelian dan kepiawaian dalam menggerakan roda bisnis.

Di era pasar bebas, Indonesia sangat membutuhkan banyak wirausahawan baru. Peran wirausaha begitu strategis untuk mendorong perekonomian nasional. Ekonomi dapat melaju pesat jika suatu Negara memiliki banyak wirausahawan. Karena itu, ia bertekad mendorong lahirnya para entrepreneur baru. Bukan sekedar teori, hal ini juga telah dipraktikkan langsung di perusahaan miliknya yang kini menaungi beberapa unit usaha di bawah bendera Proxsis Group yang dirintisnya sejak 2005.

Membangun Ruang Co Kerja

Dari pengalamannya sebagai konsultan bisnis, ia menerapkan pola baru pengembangan usaha melalui sistem kemitraan di kalangan karyawan. Setiap karyawan diberikan kebebasan mengemukakan ide dan gagasan bisnis untuk direalisasikan bersama. Mereka juga akan diberikan dukungan pendampingan dan support agar mereka lebih percaya diri untuk menjadi wirausahawan.

Di Proxsis Group, Rudi membangun co kerja dalam sistem operasi sehari-hari yang mungkin masih tergolong langka. Kami membangun sistem ROWE (Result Only Working Environment), menyediakan infrastruktur lingkungan kerja yang memungkinkan karyawan bebas berkreativitas tanpa batas darimana pun dengan dukungan teknologi informasi.
Sistem ini memungkinkan karyawan mengakses office flatform di infrastruktur cloud dengan perangkat apapun, termasuk mobile device seperti smartphone. Hal yang juga tidak ditemui di perusahaan lain, ia memiliki “Proxsis Employee Entrepreunership Program (Kewirausahaan untuk Karyawan)”, di mana pegawai yang punya potensi akan diarahkan menjadi entrepreuneur atau business owner dengan pendampingan dan support dari founder dan business owner. “Kemudian dikolaborasikan bersama dalam sebuah bisnis model yang disebut “value based collaborative business model,” ujar Rudi.

Strategi ini, ternyata sudah banyak membuahkan hasil. Di bawah bimbingan Proxsis sebagai pendamping dan incubator, saat ini telah berdiri perusahaan-perusahaan yang dimiliki bersama karyawan dan juga konsultan yang diajak bergabung. Seperti PT. Proxsis Solusi Bisnis, PT. Proxsis Global Solusi, PT. Proxsis Manajemen Internasional, PT. Sinergi Solusi Indonesia, PT. SmartPro Solusi Asia, serta anak perusahaan lainnya.

Pentingnya Kemitraan

Saat ini memiliki 15 business unit specialist yang independen dengan enam legal berbeda dipegang oleh 10 business owner merangkap director dan enam business manager. Melalui pola baru ini, jumlahnya pun bakal cepat bertambah. Belum termasuk perusahaan-perusahaan yang dibuat mantan pegawainya yang memilih memisahkan diri di luar Proxsis Group.

“Mungkin orang lain merasa tersaingi kalo ada mantan karyawan memisahkan diri membangun usaha sendiri dari bekal pengalaman di perusahaan sebelumnya. Tapi saya tidak seperti itu. Justru saya bangga kalau ada karyawan bisa mengikuti jejak saya menjadi entrepreuneur,” tandasnya.

Mengawali usaha dari nol, Rudi memahami betul kendala dan hambatan yang biasa dialami para calon pengusaha atau pemula. Sebelum mendirikan Proxsis, Rudi bekerja di Schumberger sebagai International Field Engineer. Dia menyadari kemitraan dalam menjalankan roda bisnis sangat penting, termasuk dengan karyawan sendiri. Itulah yang mendorongnya menerapkan “Proxsis Employee Entrepreuneurship Program” yang kini mampu melahirkan entrepreuneur baru.

Berkat kepiawaiannya dalam mengembangkan usaha, Proxsis Group Cepat melesat. Saat ini, Proxsis merupakan perusahaan leading consulting management di Indonesia yang menawarkan one stop service berbagai kebutuhan layanan konsultan manajemen dan bisnis terpadu. Tak hanya layanan konsultasi, namun juga jasa training bagi SDM, outsourcing, assessment, inspection, project management, serta berbagai kebutuhan laiinnya.

Proxsis juga menyediakan outside help atau layanan bagi manajemen, khususnya Business Process Management, Safety, Security, QMS, Enviro and Energy, ISO Certification, IT Security, IT Governance, Risk and Compliance, ERP, Human Resource Management and Recruiting, SCM, Finance, Tax, Project Management dan Profesional Development.
Dengan dukungan tim profesional dan tenaga-tenaga expert di bidangnya, Proxsis telah mendapat kepercayaan luas dari dunia usaha. Tak hanya dari perusahaan local, namun juga mendapat kepercayaan luas dari perusahaan multinasional. Beberapa perusahaan yang menjadi kliennya antara lain Pertamina, Holcim, PGN, Jasa Marga, PT Pelabuhan Indonesia, ASDP, Jamsostek, Antam, Depkeu, serta beberapa perusahaan besar lainnya.

%d bloggers like this: