Ide Saat Terjebak Macet

Uncategorized
This is image placeholder, edit your page to replace it.

Founder Proxsis Group Rudi Maulana

Sebagian besar orang menganggap kemacetan lalu lintas di jalan merupakan hal yang tidak menyenangkan, bahkan bisa menjadi salah satu penyebab stres. Namun, founder Proxsis Group, Rudi Maulana, justru tidak memermasalahkan dan berusaha menikmatinya. Saat terjebak macet, Rudi justru mengaku bisa menemukan ide-ide cemerlang untuk menjalankan dan mengembangkan perusahaannya yang bergerak di bidang jasa konsultan. Tak heran, apabila dia suka ketika terjebak kemacetan di jalanan ibu kota Jakarta.

“Mungkin bagi orang lain, ketika terjebak macet malah sibuk berpikir dengan kepadatan, sehingga tidak sempat berpikir. Tapi bagi saya, itu adalah momentum untuk menggali ide-ide. Bahkan, ada teman yang mengatakan bahwa saya adalah satu-satunya orang yang menyukai kemacetan di Jakarta,” kata Rudi di Jakarta, belum lama ini.

Menurut pria asal Payakumbuh, Sumatera Barat ini, salah satu ide yang dihasilkannya kala kemacetan adalah results only work environment (ROWE), yaitu konsep kerja di mana setiap orang bisa bekerja dari mana saja tanpa harus ke kantor. Konsep itu menjadikan setiap karyawan bisa memaksimalkan waktu antara bekerja dan keluarga. Kedua hal tersebut pun bisa saling menguatkan dan menjadi semangat bagi karyawan dalam menjalani pekerjaannya.

Sebagai perusahaan konsultan, ROWE juga telah diaplikasikan di Proxsis Group. Tak heran, apabila di kantornya yang berlokasi di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, hanya terlihat sedikit karyawan ketika jam kerja. “Bahkan, di kantor saya, hanya ada beberapa staf administrasi. Untuk yang lainnya, mereka bisa menjalani pekerjaannya dari luar kantor,” ujar bapak tiga putri.

Bahkan, Rudi juga mengaku dapat ide-ide yang tak kalah hebat ketika terjebak kemacetan, sehingga membuat perusahaannya semakin berkembang. Ide-ide baru bukan hanya penting untuk menjalankan perusahannya, tapi juga menjadikan perusahaannya mempunyai ciri dan cara yang berbeda dibandingkan dengan perusahan lain yang bergerak di bisnis sejenis.

Berkat ide-ide yang didapatkannya dari kemacetan di jalanan, hanya dalam waktu delapan tahun, Proxsis Group sudah berkembang lumayan besar dan sukses. Kini, perusahaannya telah memiliki 18 unit konsultan yang terintegrasi dalam bidang menajemen serta telah mempunyai kantor cabang di Surabaya.

Dari Gaji Kecil

Bagi Rudi, bukanlah hal mudah untuk membesarkan sebuah perusahaan konsultan yang semuanya harus dibangun dari awal. Bahkan, dia memulai usahanya dengan rela bekerja pada orang dan perusahaan lain, serta mau dibayar dengan gaji kecil demi belajar bisnis konsultan.

Rudi pun bercerita tentang perjalanan kariernya. Setelah keluar (resign) bekerja dari PT Schlumberger Indonesia atau disebut dengan Slambersi, dia sangat bersemangat untuk mewujudkan cita-citanya yang tertunda, yaitu menjadi pengusaha. Namun, pengalaman yang masih sedikit sempat membuatnya bingung dalam menentukan bidang apa yang ingin digelutinya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2 untuk mendapatkan gelar master. “Tapi untuk kuliah kali ini, saya sengaja mengambil jurusan manajemen. Padahal, sekolah sarjana (S1) saya adalah teknik,” jelasnya.
Pada saat melanjutkan kuliah S2, Rudi pun mulai tertarik dengan bisnis konsultan. Namun, lagi-lagi, ia juga merasa tidak mempunyai pengalaman sedikit pun dan buta mengenai bidang usaha tersebut. Untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu/dunia konsultan, Rudi akhirnya memutuskan untuk bekerja pada teman yang mendirikan perusahaan konsultan baru. Hal itu dijalaninya karena merasa sangat tertarik di bidang tersebut dan ingin banyak belajar.

“Demi belajar di perusahaan tersebut, saya rela digaji setara dengan fresh graduate. Bahkan, 70 persen dari gaji saya waktu itu habis hanya untuk membeli bensin mobil saya, yang kala itu Nissan Tertano,” kenangnya.
Setelah bekerja selama dua tahun di perusahaan teman itu, Rudi akhirnya memutuskan untuk menggeluti bisnis konsultan International Organization for Standardization (ISO). Setahun kemudian, ia menghadirkan layanan konsultan safety, yang menjadikannya sebagai perintis di bidang tersebut. Saat itu, konsultan yang bergerak di bidang safety masih sangat sedikit dan baru mulai berkembang di Tanah Air.

Kemudian, pada 2007, ia menambahkan bidang konsultasi baru, yakni makanan dalam bisnisnya, dan selalu bertambah setiap tahun. Kini, unit bisnis Proxsis Group pun telah sangat lengkap, mulai dari konsultasi strategi, operasi, home appliance, sampai teknologi informasi (TI).

“Saat ini, apabila ada orang punya uang dan ingin membuat perusahaan tidak usah pusing, kami mempunyai unit konsultan untuk semuanya. Sebab, kami adalah integrated management solution,” pungkasnya.

Sumber: Investor Daily

%d bloggers like this: