Human Error

Uncategorized

human error, safety culture, komitmen, unsafe, Emotional

Membentuk budaya keselamatan kerja (safety culture) memerlukan komitmen kuat terutama dari pimpinan tertinggi dari suatu unit kerja. Jika tidak ada komitmen yang kuat dari pimpinan serta tidak ada kesadaran yang kuat dari karyawan maka aspek safety akan terabaikan. Budaya keselamatan kerja adalah suatu system dan lingkungan kerja yang mengarahkan dan mengikat setiap individu dilingkungan kerja tersebut berperilaku aman dan secara sadar “mengintegrasikan” aspek keselamatan kerja dalam setiap tindakan. (Arief Zulkarnain, 2015). Dalam pembentukan budaya kerja selamat  di perusahaan kita harus memahami aspek perilaku manusia serta bagaimana menanganinya. Dalam tulisan ini,saya akan share beberapa hal terkait dengan perilaku salah (human error) yang cenderung dilakukan oleh individu dalam menjalankan aktifitas kerja.

  1. Error of communication, komunikasi yang salah merupakan hal sering terjadi dalam aktifitas kita sehari hari. Penerima mempersepsikan pesan berbeda dengan apa yang disampaikan oleh penyampai. Dalam proses komunikasi juga terjadi “deleting process-distortion” sehingga terdapat informasi yang terabaikan. Jika hal ini terjadi maka program ataupun informasi safety tidak akan sampai dan tidak bekerja.
  2. Convenience-comfort-save time, individu akan “skip” prosedur atau peraturan yang cenderung tidak membuat mereka nyaman ataupun merepotkan. Jika hal ini terjadi pada “critical things” maka potensi akan menimbulkan kecelakaan kerja yang disebabkan unsafe action. Pada umumnya kita terjebak melakukan apa yang sudah terbiasa kita lakukan tanpa menilai apakah yang sudah kita lakukan adalah hal yang benar. Paradigma ini yang harus dihilangkan untuk menghindari perilaku yang tidak aman.
  1. Distraction of task, adanya gangguan saat melakukan pekerjaan. Seseorang dimungkinan bisa mendapat “gangguan” saat bekerja yang bisa berasal dari rekan kerja, lingkungan ataupun keluarga. Gangguan tersebut sebagai pemicu personil untuk melakukan tindakan yang berbahaya.
  2. Failure to detect an operational sign, Kesalahan dalam mendeteksi atau mengintepretasikan tanda atau rambu operasional. Hal ini bisa terjadi karena; personil tidak memahami rambu atau tanda operasional tersebut, rambu tidak terlalu jelas untuk dipahami dan atau secara jelas mengabaikan adanya rambu tersebut. Walaupun sudah ada “antecedent” berupa rambu kemungkinan “behavior” yang ditunjukkan bisa unsafe action. Dalam teori “ABC” behavior based safety sebuah antecedent tidak bisa memastikan seseorang untuk bertindak aman.
  3. Emotional state, kesalahan karena pengaruh factor emosi. Emosi adalah sesuatu yang bersifat internal yang dapat mempengaruhi perilaku kerja. Emosi ini bisa disebabkan karena factor pribadi (private, keluarga) atau factor social (hubungan antara rekan kerja, atasan ataupun lingkungan pergaulan di masyarakat). Seseorang harus bisa menempatkan dan memilah factor emosional ini sehingga tidak mempengaruhi dalam bertindak.

Human error tersebut yang dapat saya share dalam kesempatan ini yang pada umumnya dilakukan oleh individu sebagai pemicu perilaku tidak aman (unsafe action). Dalam pembentukan budaya safety (safety culture) perusahan harus memperhatikan faktor factor yang menyebabkan kesalahan manusia (human error) tersebut dengan menerapkan program yang sistematis dan tepat. Selanjutnya, saya akan share bagaimana membentuk budaya safety.

Jakarta, 14 Oktober 2015

By : Arief Zulkarnain 

%d bloggers like this: