Apakah Indonesia Sudah Siap Melakukan Revolusi Industri 4.0?

Hari ini topik Revolusi Industri 4.0 semakin sering dibahas, termasuk sebagai bahan pertanyaan kepada capres 01 dan 02 saat debat capres 2019.

Pertanyaanya kurang lebih mengenai persiapan untuk para petani menghadapi revolusi industri 4.0?

Sebelum kita membahas “Revolusi Industri 4.0”, sebaiknya kita kembali memahami apa itu “Industri”. Perlu diingatkan bawah “Industri” tidak sama dengan “Pabrik/ Manufacturing”. Industri itu adalah satu kesatuan ekosistem untuk menghasilkan produk sampai produk itu diterima oleh konsumennya. Jadi industri itu terdiri dari banyak pihak dan system seperti supplier, pabrik, logistik, bahan baku, RnD, regulasi, fasilitas dan konsumen. Jadi, membangun industri tidak sama dengan membangun pabrik. Misalkan, industri mie instant, maka akan ada pusat bahan baku, storage, supplier, customer, karyawan, pasar, teknologi dan resources lainya yang akan membentuk satu industri.

Nah, sekarang tambahkan kata “revolusi” di depannya. Ditambah revolusi kalau kita melihat ada perubahan cepat dan mendasar. Revolusi yang pertama adalah perubahan cara produksi di pabrik-pabrik abad 18 dari manual ke mesin-mesin yang digerakan tenaga uap lalu revolusi ke 2, 3 dan sekarang revolusi industri 4.0.

Revolusi industri ke 4.

Perubahan yang disebut Revolusi industri ke 4 ditandai dengan “Model Kolaborasi”. Jadi industri sekarang makin produktif, efficient, customized, dengan cara kolaborasi pelaku industri dengan cara “Data Exchange” dan bantuan teknologi seperti IoT, Online, Robotic, dst.. Dengan model kolaborasi, pabrik bisa tersebar dibanyak tempat, dan bisa berkolaborasi dengan pihak lain walaupun beda yang punya. Mereka terkoneksi secara otomatis. Malah mesin mereka bisa bekerja mandiri dibantu robot-robot dan hanya produksi sebanyak pesanan.

Jelas disini bahwa Revolusi Industri 4.0 tidak terkait langsung dengan maraknya e-commerce dan online trading. Era online itu masuk ke revolusi internet yang sudah dimulai sejak tahun 90-an. Namun tidak bisa dipungkiri revolusi industri 4.0 ditunjang oleh revolusi internet.

Oh ya, banyak juga yang tertukar antara “Automasi Pabrik” vs “Revolusi Industri 4.0”. Memasang alat otomasi dan teknologi IoT bukan Revolusi Industry 4.0.

Sekarang kita lihat peluang Indonesia untuk menerapkan revolusi industri 4.0

Apakah sudah ada industri yang siap berkolaborasi membentuk satu kesatuan produk dan layanan? Apakah mereka bersedia melakukan pertukaran data? Apakah ada pihak pemerintah yang membentuk roadmap dan mendorong kolaborasi tersebut terealisasi?

Atau kita lihat ke belakang lagi, apakah kita punya industri? Dalam trend dilapangan, sekarang lebih menjanjikan jadi pedagang ketimbang produsen atau lebih banyak yang asik berdagang dibandingkan membangun industri.

Sektor-sektor yang tumbuh melebihi pertumbuhan PDB pada triwulan II-2017 semuanya adalah sektor jasa. Sebaliknya, semua sektor barang mengalami pertumbuhan lebih rendah dari pertumbuhan PDB.

Pertumbuhan sektor jasa (non-tradable) semakin meninggalkan pertumbuhan sektor barang.

Dikatakan juga oleh pengamat bahwa peranan sektor jasa dalam PDB telah mencapai 58 persen. Malah ada yang mengatakan perekonomian Indonesia telah menjelma sebagai perekonomian jasa, tanpa melalui tahapan negara industri.

Apa yang sebaiknya dilakukan Indonesia?

Kalau dilihat data-data dan penjelasan di atas. Jangan-jangan kita lebih fokus ke perdagangan dibandingkan industri. Terlihat dari trade deficit kita yang disebabkan oleh peningkatan import. Kalau begitu tidak usah bahas industry 4.0 dulu, tapi fokus saja pada membangun industrinya. Bangunlah industri yang bisa meningkatkan nilai tambah sumber daya alam kita yang kaya. Jangan lagi ekspor barang-barang mentah.

Kalau memang masih ingin melakukan loncatan besar di bidang industri 4.0 maka lakukan seusai sektor terpilih. Apakah sudah ada sektor terpilihnya? Lalu buat business modelnya. Jangan lupa harus berbasis kolaborasi.

Penutup

Sekarang kembali kepada pertanyaan awal. Bagaimana petani Indonesia menghadapi Industri 4.0? Menurut saya pertanyaan itu kurang relevant. Jangankan petani, sektor industri kita saja belum siap. Lebih baik ditanyakan bagaimana kesiapan pemerintah membantu industri memasuki era revolusi industri 4.0.

Oleh: Rudi Maulana, Founder and Chief of Innovation Proxsis Group